Tuesday, June 06, 2006

Impian, Doa & Kenyataan

17.45 WIB.. nulis ini sambil nunggu di jemput mas Benny.

Lama gag apdet blog. Siigh, bukannya ga ada yang diceritain justru banyak banged, tapi semua hanya tersimpan di pikiran aja. Males rasanya nulis..
Tiba hari ini, aku mulai mikir, kacau nih si mood kalau terus2an begini. Gag sehat secara batin. Udah lah, ditulis aja.. yang penting released & relieved, ya ga?

Beberapa minggu kemarin, kami (aku + suami) memang lagi sibuk, either badan or pikiran. Ada satu rumah di daerah jl. Merpati, Sawah Lama (kira-kira 10 menit dari Bintaro sektor 9) yang menarik hati kami. Dan herannya, di kali kedua kami 'tring-tring', sebelumnya ga ada getaran sama sekali. Mungkin pas pertama kali dateng, si peri penunggu lagi jalan-jalan keluar :D. Kami udah lebih dari 2x nengok rumah itu. Tiga kali berdua aja, satu kali dengan ortuku dan satu kali lagi dengan mertua. Well.. it is such a nice house. At least, match with our vision of good home. Sampai akhirnya mas Benny apply KPR di dua bank. We both really want that house!!

Sembari nunggu, mulai deh 'pedekate' sama si penjual dan dia bener2 terkesan loh dengan kami berdua. Young couple - a little family . Tapi kami juga tetap 'alert', lah wong KPR belum disetujui, gag berani nawar mati2an je'. Cari posisi aman, tidak ngoyo dan tetap membina komunikasi dengan si penjual. Topik rumah itu selalu jadi obrolan kami, baik di tempat tidur ataupun mobil. Asyik membayangkan rumah itu akan jadi markas keluarga, trus bisa bbq-an atau pesta keluarga atau adakan doa novena setiap bulan Maria. Bahkan mas Benny udah membayangkan tanaman apa aja yang bakal menghias taman. Indahnyaa..

Penantian berakhir, dua bank tersebut 'approved' aplikasi KPR kami walaupun salah satunya 'appraise' lebih rendah dibanding harga jual. Duuhh, aku mulai sport jantung..

Is it the time? .. rasanya ga percaya.

Hari Minggu kemarin kan hujan besar, waktu pulang jalan2 dari BSD, kok rasanya pingin mampir lagi ke rumah itu sebelum final karena penjual sudah mau nurunin harga mendekati kemampuan kami. Drop Rama & mertua dulu. Setelah itu langsung ke rumah impian. Nah, di sini lah masalah berawal.

Pas di sana, baru deh terlihat kebocoran di banyak sudut rumah akibat hujan. Dan kami juga baru lihat kalau badan alias dinding tepian yang mengelilingi rumah bahan dasarnya batako. Konfirmasi sama penjual baru deh ngaku. Oh My God.. bisa bayangin gag, itu kan penyangga rumah & genteng. Dan dinding batako ga memungkinkan kami untuk pengembangan, mau ditingkat misalnya. Mas Benny menemukan banyak keretakan yang diplester ulang. Tapi untuk rumah baru, please deh masa sebanyak itu yang retak? Rumah ini baru jadi sekitar awal Mei kemarin.

Mau marah, mau nangis, mau teriak... kok baru sekarang sadarnya?

Mutung & getun rasanya. Sampai di rumah kami cuma bisa diam. Mas Benny sih menyerahkan keputusan ke aku, kalau mau tetap nekad, ya udah. Rasanya kok ga enak ya, harus mengambil keputusan tapi masih ada ganjalan. Apalagi 20 m dari rumah tsb ada sutet atau tegangan tinggi. Sekarang ditambah dengan kondisi bangunan yang seperti itu. Duuhh..

Akhirnya dengan berat hati, aku memutuskan untuk batal beli rumah tersebut. Aaarrggh.. impian punya rumah sendiri secepatnya mesti ditahan-tahan dulu deh. Mungkin memang belum diijinkan sama Tuhan ya.

"Kenapa sih beli rumah? Bukannya Benny anak tunggal? Nanti yang tempatin rumah ortu nya siapa kalau mereka tinggal di Bogor? Kan sayang.. ee, bukannya ma kasih gitu."

Banyak pembicaraan orang termasuk mertua sendiri juga seputar rencana kami untuk meninggalkan rumah mertua di Ciputat. Namun bukannya kami tidak berterima kasih dengan orang tua telah menyediakan rumahnya untuk kami. Ya bayangken (kayak Pak Harto logatnya :D) sebelum menikah di rumah orang tua, masa sesudah menikah kami tidak bisa mandiri? Tidak lah yaaw ugh ugh ugh..

Waktu masih kuliah, aku selalu membayangkan memiliki keluarga sendiri yang mandiri kalau diijinkan menikah nantinya. Bayangan rumah sederhana lengkap dengan suami dan anak-anak selalu jadi harapan ku dari hari ke hari. Aku memang tipikal orang rumahan, yang betah ngutek2 di rumah seharian tapi ya bisa kumat juga gila jalan2nya. Intinya aku selalu enjoy berada di rumah.

Harapan itu semakin menguat setelah hampir 2 tahun pernikahanku dan masih 'menumpang' di rumah mertua. Jujurnya, tidak ada konflik khusus yang buat aku ingin 'kabur'. Mertua memang berusaha membuat diriku nyaman dan enak. Hanya saja.... ahh, susah diterangkan. Mungkin keenakan dan kenyamanan itu yang membuat aku jadi resah ya.

Enihow, sampai detik ini harapan ku memiliki rumah sendiri ga akan pernah pudar. Tapi harapan itu masih jadi impian sekarang. Hem.. mas Benny selalu bilang, di impi2kan tambah doa terus aja De', supaya akhirnya jadi kenyataan. Waa..

Mungkinkah?


Photobucket - Video and Image Hosting

2 Comments:

Anonymous Anonymous said...

hiks...ini postingan gw banget secara kepengen banget punya rumah sendiri...hiks...hiks....
:((((((

5:38 PM  
Anonymous Anonymous said...

kalow dicita-citain banged, pasti bisa den.. :)

gw dulu juga gitu ko, rada-rada gag yakin bisa punya rumah sendiri di sini.. akhirnya bela-belain nunda punya anak, kerja dan kerja, nabung dulu, beli rumah baru genjot anak banyak.. hihihiy... :D

11:18 AM  

Post a Comment

<< Home